Jumat, 08 Februari 2013

silsilah keturununan

Silsilah

Silsilah
Bangsa Yang besar adalah bangsa yang melestarikan Kebudayaan.Berikut merupakan Silsilah/Tarombo Batak yang mungkin terlupakan seiring masuknya Budaya asing ke Bangsa Indonesia.

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon

GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Bburning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)

*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).
Tatea Bulan artinya "Tertayang Bulan" = "Tertatang Bulan". Raja Isombaon (Raja Isumbaon)

Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Bbatak dapat dibagi atas 2 golongan besar:
1. Golongan Ttatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung.

2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak.

PENJABARAN
* RAJA UTI
Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi, namun secara fisik tidak sempurna. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti.

* SARIBURAJA
Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki).

Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.

Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia.

Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.

Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si raja babiat. Di kemudian hari Si raja babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin.

Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus.

SI RAJA LONTUNG
Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu:
* Putra:
1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
2. Sinaga raja, keturunannya bermarga Sinaga.
3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
4. Toga nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.

* Putri :
1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora.

Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu.
Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin.

SINAGA
Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu.

PANDIANGAN
Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja.

NAINGGOLAN
Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae.

SIMATUPANG
Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian.

ARITONANG
Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare.

SIREGAR
Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin.


* SI RAJA BORBOR
Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor.

Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :

1. Datu Dalu (Sahangmaima).
2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar.
3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap.
4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung.
5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan.
6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang.

Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut :
1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat.
2. Tinendang, Tangkar.
3. Matondang.
4. Saruksuk.
5. Tarihoran.
6. Parapat.
7. Rangkuti.

Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut.

Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya
Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong.

SAGALA RAJA
Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala.

SILAU RAJA
Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Malau
2. Manik
3. Ambarita
4. Gurning

Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra:
I. Ambarita Lumban Pea
II. Ambarita Lumban Pining

Lumban Pea memiliki dua anak laki-laki
1. Ompu Mangomborlan
2. Ompu Bona Nihuta
Berhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta.

Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:
1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut)
2. Op Raja Marihot
3. Op Marhajang
4. Op Rajani Umbul

Selanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan).

Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir.

Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki
1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek Batu
Keturunan Op Sohailoan saat ini antara lain Op Josep (Pak Beluana di Palembang)

2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas Bolon
Keturunan antara lain J ambarita Bekasi,

3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir.
Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman Ambarita


TUAN SORIMANGARAJA
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).

Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.

Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.

Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)

Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya.

Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu:
1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.
2. Tamba Ttua, keturunannya bermarga Tamba.
3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi.
4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte).
Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung):

SIMBOLON
Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi.

TAMBA
Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu.

SARAGI
Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke.

MUNTE
Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging.

Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun.

Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.

Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh.

Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut:
1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa.
2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin.
3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit.
4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK)
Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon.

Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak:

Raja Mardopang
Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar.

Raja Mangatur
Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus.

NAI SUANON (tuan sorbadibanua)
Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua.

Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.
Dari istri pertama (putri Sariburaja):
1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan.
2. Si Paet Tua.
3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi.
4. Si Raja Oloan.
5. Si Raja Huta Lima.

Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
a. Si Raja Sumba.
b. Si Raja Sobu.
c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos.

Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat.

Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Tampubolon, Barimbing, Silaen.
2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution.
3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi.
4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede.

Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan.
2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet.
3. Pangaribuan, Hutapea.

Keturunan si lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sihaloho.
2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung.
3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari.
4. Sidabutar.
5. Sidabariba, Solia.
6. Sidebang, Boliala.
7. Pintubatu, Sigiro.
8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol.

Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa.
2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga.
3. Bangkara.
4. Sinambela, Dairi.
5. Sihite, Sileang.
6. Simanullang.

Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Maha.
2. Sambo.
3. Pardosi, Sembiring Meliala.

Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro.
2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori.

Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Sitompul.
2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.

Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut:
1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan.
2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang.

(Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana.

***

DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga).

Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut:

"Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;
Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan"

artinya:

"Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang);
Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji"

Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
1. Marbun dengan Sihotang
2. Panjaitan dengan Manullang
3. Tampubolon dengan Sitompul.
4. Sitorus dengan Hutajulu - Hutahaean - Aruan.
5. Nahampun dengan Situmorang.
(Disadur dari buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987)
KEDUDUKAN MARGA RANGKUTI,PULUNGAN DAN NASUTION

Marga Rangkuti dan marga Pulungan di antara marga-marga yang lain yang mempunyai kerjaan di Mandailing, maka yang pertama sekali mempunyai kerajaan di Mandailing diantara kedua marga itu adalah marga Pulungan dan satu generasi kemudian barulah marga Rangkuti.
Pulungan mendiririkan kerajaan di Hutabargot dan Kerajaan Rangkuti di Runding kedua-dua kerajaan itu berdekatan dan berhadap-hadapan di seberang Batanggadis sebelah barat Panyabungan.
Kedatangan marga Lubis setelah dua generasi Pulungan, berarti setelah satu generasi marga Rangkuti di Runding.
Marga Nasution turunan si Baroar Sutan Diaru, setelah lima generasi marga Rangkuti mendiami Runding atau enam generasi Pulungan mendiami Hutabargot.
Dengan demikian maka kedatangan Pulungan dan Rangkuti di Mandailing itu adalah kira-kira pada pertengahan abad XI dan kedatangan Marga Lubis kira-kira pertengahan abad ke XII dan Marga Nasution Sibaroar pada pertengahan abad ke XIII.
Antara abad kedatangan Pulungan dan Rangkuti Mandailing, ada pendatang baru yaitu kelompok keluarga, yaitu:
Kelompok Hulubalang Ampar Mananti- Sitimbakoruma-Silasiak Jantan dan Angin Bapole, merekaalah sebenarnya mendirikan Panyabungan Sekarang, kemudian mereka bermarga :
a. Nasution Dolok
b. Nasution Tonga
c. Nasution Lombang
Kelompok lainnya, pendatang dari Tapanuli Utara, bernama Raja Maimaon ajak Datu Shangti dari turunan Marga Siahaan – Pohan. Mereka mendirikan Huta dan Kerajaan bernama Padanggarugur . Letaknya kira-kira 6 KM sebelah Utara Panyabungan.
Raja Maimaon ini kawin dengan Boru Pulungan dari Lumbanhuayan, yaitu Boru Sutan Huayan, Saudara kandung Mangaraja Bengkas Naduma Bulung dan Mangaraja Tapus Ginjang.
Boru Pulungan inilah yang dinamakan Sutan Parampuan, dimana penggelaran ini karena suaminya yang jadi Raja tetapi dialah yang mengatur dan berkuasa kepada rakyat bahkan suaminya Raja Maimaon pun dibawah perintahnya, justeru digelarlah ia Sutan Parampuan.
Dalam cerita Kuno di Mandailing “harom Padanggarugur harani Sutan Parampuan” artinya hacur luluh Kerajaan Padanggarugur karena Sutan Parampuan. Kehancuran Padanggarugur itu karena berperang dengan Baginda Mangaraja Enda dari Panyabungan Tonga-tonga (Nasution Sibaroar).
Kedua-duanya kelompok yang telah diuraikan tadi, menjadi takluk kepada Sibaroar kemudian atas kebijaksanaan Sibaroar mereka di-Nasution-kan hingga mereka menjadi marga Nasution.
Nasution Padanggarugur itu berkembang menjadi tujuh bahagian masing-masing:
Nasution Tanagodang
Nasution Tanggahambeng
Nasution Borotan
Nasution Lancat
Nasution Joring
Nasution Manggis, dan
Nasution Simangintir
Tatkala itu jalan seperti sekarang, lintas Sumatera yang membelah Mandailing, belum ada pada waktu jalan ke Mandailing hanya mengikuti lalu lintas air, dengan sungai Batanggadis di belahan wilayah Mandailing dan Hilirnya dibelahan Angkola Jae dan Angkola Julu, dan kedua sungai bertemu di Lumpatan Harimo, dan akibat tekanan dan luapan Batanggadis dan Batang Angkola yang bertemu di Lumpatan Harimo itu, menyebabkan Mandailing mempunyai danau yang dinamakan Rodang dan tak obahnya bagaikan air laut yang mempunyai pasang surut dan pasang naik, kadang kala kalau banjir mengakibatkan sawah-sawah di hilir persawahan Malintang-Sihepeng dan kampung –kampung diantara keduanyaterbenam. Inilah yang dikatakan Willem Iskander dalam bukunya Sibulus-bulus –Sirumbuk-rumbuk, air yang banyak merugikan tapi menguntungkankan; merugikan karena dengan adanya rodang (danau) itu Panyabungan menjadi sarang nyamuk malaria. Dan menguntungkan karena tanah subur.
Kemudian sebagaimana diuraikan terdahulu, lalu lintas yangmenghubungkan Tapanuli Utara dengan Selatan (Mandailing) ialah yang menjurus ke Siborongborong terus ke Hampung dan Melintasi Tor Sihite tempatnya suku bangsas primitis (Lubu- Siladang) terus menuju Panyabungan.
Demikian kira-kira situasi kependudukan dan geografis serta gambaran masyarakat di mandailing pada ketika itu.
Dalam keadaan demikian itu lah pula dimana marga Rangkuti dan Kerajaannya di Runding mempunyai kedudukan dan kedaulatan sendiri, karena Kerajaan Rangkuti tidak pernah takluk kepada kerajaan manapun dan mempunyai Adat Kebesaran sendiri dengan segala mass media dan alat-alat perlengkapan tanda kebesarannya tanpa berafilitas kepada siapapun sekalipun Kerajaan Pulungan di dekatnya yang tak ada tolok ukur badingannya di seluruh Tapanuli ketika itu.
Sebelum ujud marga marga diMandailing,kerajaan Mandala Holing diPidoli Dolok yang menguasai seluruh Mandailing,kerajaan ini telah dibumihangus oleh tentera Majapahit sekitar kurun ke14,lalu penduduknya terlah lari kehutan bergaul dengan orang asli tempatan,ahkirnya mereka membentuk marga Pulungan ertinya yang dikutip kutip lalu menegak kerajaan mereka diatas tiga bukit sebelum turun kelembah diHuta Bargot.... 
 
Setelah kerajaan Rangkuti di Runding, berdiri kerajaan di Huta Lobu di Tor Mandalasena, Aekmarian dengan rajanya nenek moyang marga rangkuti Datu Janggut Marpayung Aji. Masih ditemukan tanda-tanda sejarah di sekitar makam. Untuk penelitian lebih lanjut, say usul kepada pemerintah agar daerah itu dijadikan situs yg dilindungi pemerintah. sekitar makan Datu Janggut Marpayung Aji,di Huta Lobu, Ttor Mandalesa Mandailing pernah ditemukan beberapa patung seperti Sipotong Ulu, Sipamutung, hukubalang dan sebagainya, dan sekarang telah raib enrah kemana. Juga ditemukan tanda-tanda bagas godang, ada sumur naga tempat pemandian putri raja Nan janggeas, lubuk raranangan tempat pemanndian raja, batu besar pintu masuk kerajaan dan sebagainya.Untuk melengkapi sejarah marga-marga di Mandailing perlu ada upaya dari tokoh-tokoh adat dan bekerjasama dengan ahli sejarah atau arkeolog menelusuri keberadaan marga Rangkuti dan marga-marga lain secara ilmiah, bukan katanya atau konon khabarnya atau berdasarkan legenda yang belum tentu kebenarannya. Hal ini penting agar generasi muda tidak cdiwarisi dengan sejarah yang kelabu secara turun temurun. Sebagai inisiator, saya berencana mengadakan acara Ziarah bersama dari seluruh turunan marga Rangkuti (yang bersedia) ke makam Datu Janggut Marpatung Aji pada akhit tahun ini. Acaranya sedang disusun oleh tim kecil al: Ziarah, Horaja adat, Festifal Gogondang Sambilan dan diskusi adat Mandailing. Rapat panitia lokal akan diadakan di Batugodang Mandailing bulan Maret yad. Rencana ini sangat tergantung pada perhatian dan dukungan marga Rangkuti se dunia (diharap dukungan dari marga Rangkuti Malaysia, dll). Diperlukan panitia khusus di Medan, di Malaysia dll.siapa bersedia ???. Wass.

sejarah kerajaan d mandailing

RENDO RAJA PANUSUNAN TAMIANG

Rendo hanya di kenal di masyakat Mandailing. Rendo merupakan mahkota raja panusunan, yang terbuat dari kain emapat persegi dengan lebar 1 x 1 m, yang dililitkan di kepala dengan cara teknik tersendiri, sehingga berbentuk penutup kepala yang berseni indah dan menawan. Dipinggirnya (sudut ujung) yang merupakan penutup dari atas di beri jambul yang terbuat dari pernik-pernik berwarna emas kekuning-kuningan yang yang menyerupai pita (renda)
Kain empat persegi tersebut dilipat menjadi segitiga dan dua sudutnya, yang dibawah lebih pendek dari yang diatas. Kedua sisi inilah yang diberi renda, Jika kedua sisinya diberi renda menunjukkan pemakainya adalah raja panusunan. Apabila sisinya tersebut disatukan dan diberi renda, maka rendo tersebut adalah pakaian raja pamusuk.
Hampu dipakai raja panusunan pada acara yang sifatnya besar (agung), misalnya pada pelantikan raja dan pasangannya adalah baju kebesaran yang pakai rompi di bagian dalam. Sedangkan rendo dikenakan pada acara sehari-hari yang insedentiil dan pasangannya adalah baju pakai kancing tanpa rompi dan Rendo
dipakai pada acara adat, acara perkawinaan adat yang penyelenggaranya Raja Panusunan.

Patuan Dolok III,Raja Panusunan Tamiang Terahkir 1932 - 1946 yang memakai Rendo yang merupakan pakaian raja raja diMandailing.
Satu keterangan untuk angguta FB ini mengenai pakaian raja raja diMandailing supaya menambahkan pengetahuan adat yang diamalkan oleh masyarakat budaya diTanah Leluhur,semoga bermanafaat kepada semua.

RENDO RAJA PANUSUNAN TAMIANG

Rendo hanya di kenal di masyakat Mandailing. Rendo merupakan mahkota raja panusunan, yang terbuat dari kain emapat persegi dengan lebar 1 x 1 m, yang dililitkan di kepala dengan cara teknik tersendiri, sehingga berbentuk penutup kepala yang berseni indah dan menawan. Dipinggirnya (sudut ujung) yang merupakan penutup dari atas di beri jambul yang terbuat dari pernik-pernik berwarna emas kekuning-kuningan yang yang menyerupai pita (renda)
Kain empat persegi tersebut dilipat menjadi segitiga dan dua sudutnya, yang dibawah lebih pendek dari yang diatas. Kedua sisi inilah yang diberi renda, Jika kedua sisinya diberi renda menunjukkan pemakainya adalah raja panusunan. Apabila sisinya tersebut disatukan dan diberi renda, maka rendo tersebut adalah pakaian raja pamusuk.
Hampu dipakai raja panusunan pada acara yang sifatnya besar (agung), misalnya pada pelantikan raja dan pasangannya adalah baju kebesaran yang pakai rompi di bagian dalam. Sedangkan rendo dikenakan pada acara sehari-hari yang insedentiil dan pasangannya adalah baju pakai kancing tanpa rompi dan Rendo
dipakai pada acara adat, acara perkawinaan adat yang penyelenggaranya Raja Panusunan.

Patuan Dolok III,Raja Panusunan Tamiang Terahkir 1932 - 1946 yang memakai Rendo yang merupakan pakaian raja raja diMandailing.

hallo dunia

hallo dunia  !
sekarang saya hadir untuk membantu anda